Beranda » Haji & Umroh » Pengertian dan Tata Cara Ibadah Haji dan Umrah

Bismillahirrohmanirrohim, Assalamualaikum Wr. Wb.
Pada artikel saya kali ini, saya akan membagikan penjelasan, pengertian, dan tata cara ibadah haji dan umrah.
Artikel ini dibuat berhubung banyaknya guru saya yang pergi umrah dan baru saja ada yang pulang haji di tanah suci Mekah. Menunaikan ibadah haji maupun umrah memiliki makna yang berarti. Contohnya ibadah haji adalah merupakan napak tilas dari sejarah masa lalu yang dilakukan oleh keluarga Nabi Ibrahim a.s.

Ibadah Haji Meliputi :

 

 

  • Ibadah Haji
  • Pengertian Ibadah Haji
  • Hukum Ibadah Haji
  • Syarat-Syarat Haji
  • Syarat Wajib Haji
  • Rukun Haji
  • Wajib Haji
  • Sunnah Haji
  • Dalil Mengenai Ibadah Haji
  • Dalil Haji

 

 

Ibadah Haji

Setiap bulan Zulhijjah umat Islam dari penjuru dunia banyak pergi ke Baitullah untuk melaksanakan rukun islam yang kelima yaitu menjalankan ibadah haji. Ibadah haji dilaksanakan bila seseorang telah mampu. Mampu dimaksudkan mampu membiayai ibadah haji dan ketika dalam melaksanakan ibadah haji telah meninggalkan sejumlah biaya untuk keluarga di rumah. Ibadah haji merupakan bapak tilas bagi pemeluk agama islam diseluruh dunia dari sejarah masa lalu keluarha Nabi Ibrahim a.s. sebagai simbol perjalanan hidup manusia dari dunia sampai alam akhirat.

Pengertian dan Hukum ibadah Haji

Secara bahasa haji berasal dari bahasa Arab yaitu haji yang artinya menyengaja sesuatu. Sedangkan menurut syara’ haji berarti mengunjungi Ka’bah (baitulloh) untuk melakukan ibadah dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan. Ibadah haji merupakan rukun islam yang kelima (haji bila mampu). Haji wajib dilaksanakan bila mampu. Maksud dari mampu adalah secara meterial yaitu cukup untuk biaya dirinya sendiri maupun untuk keluarga yang ditinggal, dan mampu secara fisik (sehat) dalam melaksanakan ibadah haji.
Bagi umat islam yang mampu berhaji namun tidak melaksanakannya maka ia mendapat dosa karena telah meninggalkan kewajibannya.
Ibadah haji wahib hukumnya dilaksanakan sebagaimana firman Allah Swt. sebagai berikut:

فيهِ ءايٰتٌ بَيِّنٰتٌ مَقامُ إِبرٰهيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُ كانَ ءامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النّاسِ حِجُّ البَيتِ مَنِ استَطاعَ إِلَيهِ سَبيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ العٰلَمينَ

Artinya: “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (Q.S. Ali Imran/3:97)

Disamping wajib melaksanakan ibadah haji, umat islam juga wajib melaksanakan ibadah umrah. Oleh karena itu banyak jamaah haji melaksanakan ibadah haji dan ibadah umrah. Berikut tata cara melaksanakan ibadah haji dan ibadah umrah, yaitu:
1. Ifrad, yaitu mengerjakan ibadah haji terlebih dahulu lalu mengerjakan ibadah umrah.
2. Tamattu’, yaitu mengerjakan ibadah umrah terlebih dahulu lalu mengerjakan ibadah haji.
3. Qiran, yaitu mengerjakan haji dan umrah secara bersama-sama.

Syarat wajib Haji

Sebelum melaksanakan ibadah haji, terdapat beberapa syarat wajib bagi para calon jamaah haji yang harus dipenuhi, antara lain:
1. Islam
Orang yang bukan islam tidak wajib haji. Apabila non muslim tersebut haji maka hajinya tidak sah. Bila ingin sah maka harus masuk islam terlebih dahulu.
2. Baligh
Anak kecil yang belum pubertas tidak wajib haji. Apabila ia tetap melaksanakan ibadah haji, maka hajinya tetap sah. Namun, setelah ia dewasa ia tetap wajib melaksanakan ibadah haji.
3. Berakal sehat
Orang yang akalnya tidak waras (gila) maka ia tidak wajib haji. Apabila orang yang tidak waras (gila) ini tetap melaksanakan ibadah haji, maka hajinya tetap tidak akan sah.
4. Merdeka
Jika ingin melaksanakan ibadah haji adalah dengan ijin seorang atasan.
5. Mampu
Harus mampu baik fisik, materi, dan keamanan.

Rukun haji

Rukun haji merupakan serangkaian kegiatan yang apabila salah satunya tidak dikerjakan maka hajinya tidak sah dan tidak boleh digantikan dengan dam(denda). Maka rukun haji merupakan penentu haji sah atau tidak.
Adapun rukun haji adalah sebagai berikut:
1. Ihram dengan niat
Berniat mengerjakan ibadah haji. Niat dilakukan ikhlas di dalam hati.
Untuk haji Tamattu : “Labbaika Umrotan Mutamatti’an biha ila al-hajj” (Aku penuhi panggilanMu untuk umrah dan tamattu hingga haji). 
Yang haji Ifrad : “Labbaika Hajjan” (Aku penuhi panggilanMu untuk haji).
2. Wukuf
Datang atau hadir di padang Arafah pada waktu yang telah ditentukan mulai waktu zuhur tanggal 9 Zulhijjah sampai terbit fajar tanggal 10 Zulhijjah.
3. Tawaf
Yaitu mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali.
Syarat tawaf:
a. suci dari hadast dan kotoran pada badan, pakaian, dan tempat.
b. menutup aurat bagi yang mampu menutupnya. Bila terbuka aurat harus menutupnya lalu tidak usah memulai dari awal lagi meskipun dengan disengaja dan lama waktu pemisahnya.
c. berniat tawaf. kalau dikerjakan terpisah, yakni jika tidak tercakup oleh ibadah lain. Kalau tercakup Ibadah Haji maka niatnya itu sunat hukumnya.
d. mulai dari thawaf dari hajar aswad. Yaitu bertepatan dengan hajar aswad ketika lewat, yakni anggota badan kirinya
e. menjadikan baitullah disebelah kirinya ketika lewat ke arah depannya kalau tidak demikian tidak syah thawafnya.

f. melakukan thawaf 7 kali dengan yakin, Walaupun pada waktu makruh
Macam – Macam Tawaf:
a. Tawaf Qudum, yaitu tawaf yang dilakukan saat pertama sampai Mekkah
b. Tawaf Umrah, yaitu tawaf yang dilaksanakan pada saat umrah
c. Tawaf Ifadah, yaitu tawaf yang dilakukan untuk melaksanakan rukun haji
d. Tawaf wada, yaitu tawaf yang dilakukan saat akan meninggalkan Mekkah (tawaf pamitan).

e. Tawaf Sunnah, yaitu tawaf yang dilakukan setiap waktu dan tidak di ikuti Sa’i

4. Sa’i
Yaitu berlari-larian kecil dari bukit Safa ke bukit Marwah.
Syarat-syarat Sa’i:
a. Melakukan perjalanan sa’i secara keseluruhan dan tidak boleh ada yang tersisa. Kaki hendaknya menempel pada bukit, baik Shafa maupun Marwah, karena Rasul Allah SAW mengerjakannya begitu.
b. Memulai dari Shafa dan berakhir di bukit Marwah. Jikalau dibalik maka sa’i tersebut tidak sah.
c. Melakukan sa’i sesudah thawaf yang sah dan baik.
d. Melakukan sa’i 7 kali perjalanan sa’i.
Sa’i dilakukan di mas’a (tempat berlari) yaitu jalan yang terbentang antara Shafa dan Marwah yang telah disediakan untuk itu.
Ada beberapa sunat Sa’i
a. Berdoa antara Shafa dan Marwah.
b. Melaksanakannya dalam keadaan suci dan menutup aurat.
c. Laki-laki berlari-lari keeil di antara dua tonggak hijau yang terdapat di dalam mas’a.
d. Melaksanakannya dalam kondisi tidak berdesak-desakan. Jika memang terpaksa berdesak-desakan hendaknya diupayakan agar tidak mengganggu orang lain.
e. Melaksanakannya dengan berjalan kaki. Jika tidak kuat, dapat melaksanakannya dengan kendaraan atau ditandu
f. Melaksanakannya dengan berturut-turut, tidak terpotong-potong, kecuali apabila pada waktu sedang sa’i itu dilakukan salat jenazah.

Dalam keadaan semacam itu, sa’i dibolehkan dipotong untuk mengikuti salat jenazah tersebut sudah selesai maka sa’i dapat dilanjutkan dengan menambahi saja yang masih kurang.

Wajib Haji

Selain mengerjakan rukun haji, jamaah haji juga harus mengerjakan wajib haji. Berbeda dengan rukun haji, wajib haji adalah serangkaian kegiatan yang harus dikerjakan apabila salah satu kegiatan tidak dikerjakan maka hajinya tetap sah tetapi harus membayar dam(denda) atau menyembelih hewan.
Adapaun wajib hajinya sebagai berikut:
1. Ihram dan miqat
Yaitu batasan waktu dan tempat yang telah ditentukan.
2. Berhenti di Muzdalifah
Berhenti di Muzdalifah sesudah tengah malam, di malam hari raya haji sesudah hadir di Padang Arafah.
3. Melontarkan jumlah Aqabah pada hari raya haji.
4. Melontarkan tiga jumrah
5. Bermalam di Mina
6. Tawaf wada’
yaitu adalah tawaf yang dilaksanakan sewaktu akan meningggalakan mekah
7. Tidak melakukan perbuatan yang dilarang atau diharamkan.

Sunah Haji

Sunah haji adalah serangkaian kegiatan haji yang apabila dilakukan mendapat pahala dan apabila tidak dilakukan tidak mendapat dosa.
Adapun sunah hajinya sebagai berikut:
1. Ifrad
Yaitu ihram untuk haji dahulu baru umrah
2. Membaca talbiyah selama ihram sampai melontar jumrah aqabah pada hari raya idul adha
3. Berdoa sesudah membaca talbiyah
4. Membaca zikir sewaktu tawaf
5. Salat dua rakaat sesudah tawaf
6. Masuk ke Ka’bah

Dalil mengenai ibadah Haji

Pertama: Ibadah Haji merupakan amalan yang paling afdhol.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)

Kedua: Jika ibadah haji tidak bercampur dengan dosa (syirik dan maksiat), maka balasannya adalah surga
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim, 9/119)

Ketiga: Haji termasuk jihad fii sabilillah (jihad di jalan Allah)
Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520)

Keempat: Haji akan menghapuskan kesalahaan dan dosa-dosa
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).

Kelima: Haji akan menghilangkan kefakiran dan dosa.
Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih)

Keenam: Orang yang berhaji adalah tamu Allah
Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ
“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah no 2893. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ketujuh: Allah Ta’ala berfirman:وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97)

Kedelapan: Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:بُنِيَ الإسلامُ عَلَى خَمْسٍ: شهادةُ ألا إله إلا اللهُ وَأَنَّ محمداً رسولُ اللهِ، وَإِقامُ الصلاةِ وإِيْتاءُ الزَّكاةِ، وَحَجُّ الْبَيْتِ، وَصَوْمُ رَمَضانَ“Islam dibangun di atas lima perkata: Persaksian Laa ilaha illallah dan Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berhaji di Makkah, dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)

Kesembilan: Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkhutbah dan bersabda:يا أَيُّها النّاسُ قَدْ فُرِضَ عَلَيْكُمُ الْحَجُّ فَحَجُّوا. فَقالَ رَجُلٌ: أَفِي كُلِّ عامٍ يا رسولَ اللهِ؟ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَها ثَلاَثاً، فقال: لَوْ قُلْتُ: نعم، لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ“Wahai sekalian manusia, sungguh telah diwajibkan atas kalian berhaji maka berhajilah kalian. Lalu ada seorang yang bertanya, “Apakah wajib setiap tahun wahai Rasulullah?” beliau lalu terdiam. Sampai ketika orang itu bertanya pada kali yang ketiga beliau menjawab, “Seandainya saya katakan ‘ya’ maka haji akan menjadi wajib setiap tahunnya dan kalian pasti tidak akan sanggup melakukannya.” (HR. Muslim no. 1337)

Kesepuluh:
ِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِىْ بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِلْعَالَمِيْنَ ٠ فِيْهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ اِبْرَاهِيْمَ ٬ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ٬ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً ٠ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اﷲَ غَنِىٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ٠

Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkati, dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah ia. Dan mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan) semesta alam. ”

Kesebelas: Sebagaimana yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah RA:

بُنِىَ الاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اﷲُ٬ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اﷲِ٬ وَاِقَامِ الصَّلاَةِ ٠ وَاِيْتَاءِ الزَّكاَةِ ٬ وصَوْمِ رَمَضَانَ ٬ وَحِجِّ الْبَيْتِ لِمَنْ اِسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً٠

Artinya: “Islam dibina atas lima perkara: 1) bersaksi bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa Muhammad itu Rasul Allah, 2) mendirikan shalat, 3) menunaikan zakat, 4) puasa di bulan Ramadhan, dan 5) melakukan haji ke Baitullah, bagi orang yang mampu melakukan perjalanan kesana.”

Penutup

Mungkin sekian ilmu yang saya bagikan. Semoga bermanfaat bagi kalian. Jangan lupa untuk membagikan ilmu ini ke orang-orang disekitar agar ilmu ini menjadi penyelamat kalian di akhirat nanti.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.